Benci = Cinta

Panasnya cuaca siang tak menghalangi beberapa anak ekskul sepak bola untuk berlatih di lapangan sekolah. Meski keringat menetes dan membuat baju mereka basah kuyup, tapi semangat berlatih tetap terpancar dari wajah- wajah para pemain. Maklumlah, karena seminggu lagi akan dimulai pembukaan kejuaraan sepakbola se-Propinsi Jawa Timur yang akan berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.

Jam sekolah telah berakhir dan sudah hampir 2 jam mereka berlatih, tapi tetap tak ada tanda- tanda akan berakhir. Para murid yang hendak pulang kerumah pun mengurungkan niatnya dan justru asyik menonton seberapa jauh persiapan tim sepak bola kebanggaan sekolah mereka.

“ Ayo cepetan! Keburu selesai lho nanti latihannya,” seru Lily dari luar kelasnya.

“ Iya, tunggu bentar kenapa seh!” sahut Riri dari dalam kelas sambil mengemasi buku- bukunya ke dalam tas.

 

***

Beberapa saat kemudian mereka berdua telah stay cool di pinggir lapangan sepak bola. Lily tak henti- hentinya meneriakkkan nama sang pujaan hati yang lagi menggiring bola di lapangan. Sementara Riri hanya sibuk memperhatikan para pemain yang berlari kesana kemari. Sudah terlalu sering dia menonton mereka latihan, bahkan kemanapun mereka melakukan pertandingan Riri pasti akan menonton. Status Riri sebagai ketua UKS memaksanya untuk memperhatikan kesehatan fisik para pemain.

…Aarrrgg…

Tiba- tiba terdengar Lily berteriak saat secara bersamaan terlihat sang penjaga gawang tidak dapat mengontrol gerak tubuhnya dan menghantam tiang gawang dengan keras. Seluruh pemain langsung mengerumuni Reza, sang penjaga gawang. Lily juga langsung menyeret Riri untuk memastikan semua akan baik- baik saja.

“ Elo nggak papa  kan?” tanya Trias, sang kapten tim yang tak lain adalah kekasih Lily.

“ Gue nggak papa kok,” sahut Reza sambil meringis memegangi lengan kanannya yang serasa kebas.

“ Ya udah, mending elo istirahat aja di UKS,” tambah Trias.

“ Sini biar gue yang anter lo ke UKS,” sahut Shella, sang manager tim sepak bola yang memang telah lama menyukai Reza. Karena Reza juga, Shella sampai rela untuk berpanas- panasan mengawasi setiap latihan timnya.

“ Gue nggak papa kok. Lagian gue juga masih bisa jalan sendiri,” kata Reza ketus dan terkesan ogah banget untuk diantar sama Shella.

“ Tapi gue kan manager tim ini. Jadi gue harus mastiin elo baik- baik aja,” sahut Shella membela diri.

“ Elo emang manager tim ini. Tapi itu nggak berarti elo harus ikut campur sama semua masalah gue. Tugas elo itu ngurusin tim, bukan ngurusi gue” tambah Reza tegas, yang langsung membuat Shella malu.

“ Udah- udah. Mending elo aja Riri yang bawa Reza ke UKS,” kata Trias pada Riri. Trias tau betul kalo Reza benci banget sama Shella. Bagi Reza, Shella adalah cewek yang selalu memaksakan keinginananya pada orang lain.

Riri dapat melihat dengan jelas melalui ekor matanya kalo semua orang disana melihat ke arahnya. Dia juga bisa merasakan tatapan tajam mata Shella.

“ Kenapa juga harus gue yang bawa Reza. Awas aja tuh si Trias,” batin Riri.

Riri segera berjongkok untuk membantu Reza berdiri. Tangan kanan Reza yang terluka membuat Riri harus memapahnya sampai UKS yang jaraknya lumayan jauh dari lapangan. Bisa dirasakannya senyum kepuasan dari mulut Trias dan Lily. Mereka berdua memang telah berusaha menjodohkan Riri dengan Reza.

Sorry ya udah ngerepotin elo,” kata Reza memecahkan keheningan setibanya di UKS. UKS saat ini sudah kosong. Hanya ada mereka berdua.

“ Bagus deh kalo nyadar,” sahut Riri. “ Cepetan lepas kaos lo. Biar nggak masuk angin dan gue gampang ngobatin luka di lengan elo,” tambahnya.

“ Jutek banget seh,” jawab Reza. “ Lengan gue kan terluka. Jadi elo bisa nggak bantuin gue buat ngelepas kaosnya?” tambah Reza tanpa malu.

Dasar cowok nyebelin. Udah nyusahin orang dengan harus memapah dia dari lapangan sampai sini, eh masih juga ngerepotin. Makanya nggak usah sok pahlawan deh. Kalo tuh bola emang sulit dijangkau ya biarin aja masuk gawang. Ngapain juga harus maksain diri buat menangkapanya, sukurin terbentur tiang, kata Riri dalam hati.

Oh my god. Itu dada apa papan seluncuran? Kok bisa bidang banget seh. Mana bau badannya tetep wangi lagi meskipun dipake lari- larian. Ya ampun, kenapa harus Reza seh,” batin Riri sambil terus mengamati Reza.

“ Hallo…, elo mau ngobatin gue atau mau liatin gue terus,” kata Reza membuyarkan lamunan Riri.

“ I-iya”

Riri  malu banget kepergok merhatiin Reza. Nggak pernah sekalipun terlintas dalam benak Riri kalo Reza itu sebenarnya keren banget. Setelah hampir 6 bulan selalu mengikuti kemanapun tim sepak bola pergi, biasanya seh, dia cuek saja. Bahkan terkesan tidak mengganggap Reza ada. Tapi tidak bagi Reza, dia telah merasa tertarik dengan sosok Riri sejak awal dia melihat Riri bergabung dengan tim. Reza telah bercerita tentang perasaannya ini pada Trias, tapi Trias malah bilang kalo Riri itu nggak suka sama cowok agresif. Makanya Reza hanya bisa memendam perasaannya selama berbulan- bulan dan membiarkannya sampai Riri menyadarinya.

“ Sekarang elo istirahat aja. Nanti kalo udah mendingan baru elo boleh pulang,” kata Riri setelah selesai memasang perban pada lengan Reza yang sobek. “ Gue pulang duluan,” lanjutnya.

“ Elo mau ninggalin gue sendirian disini. Jangan dong!” kata Reza merengek seperti anak kecil.

Sorry. Gue harus pulang, ada urusan yang harus gue selesaiin, jadi nggak bisa nemenin elo lebih lama lagi,” jawab Riri sambil bersiap- siap pulang. Sebenarnya Riri hanya berbohong, dia nggak bisa lama- lama berduaan di dalam ruangan yang hanya 2 x 4 meter itu. Dadanya terasa sesak jika ada di dekat Reza.

Please banget. Temenin gue sejam lagi. Ntar gue bakal ngelakuin apapun yang elo minta,” kata Reza. Bahkan nyawa gue pun bakal gue korbanin hanya untuk bisa didekat elo, tambah Reza dalam hati.

Tiba- tiba Shella dan beberapa orang anggota tim sepak bola menjenguk Reza, termasuk Trias dan Lily. Segera saja mereka mengerubungi Reza dan membuatnya tidak menyadari kalo Riri telah menyelinap keluar dan berjalan pulang sambil tergenang airmata di wajahnya yang hitam manis.

Pikirannya terbang ke  masa saat dia masih berumur 7 tahun. Saat itu kedua orang tuanya yang hendak menyeberang tiba- tiba ditabrak dari samping oleh seorang bapak yang mengemudi dengan ngebut. Kejadian itu membuat ia kehilangan kedua orang tuanya. Dan bapak yang menabrak itu hanya meninggalkan selembar kartu nama dan meminta pihak keluarga menghubunginya jika butuh biaya.

Dirinya benar- benar marah dan benci pada orang yang diketahui bernama Hendra Setiawan yang adalah ayah dari Reza Putra Setiawan. Itulah kenapa kebencian selalu menghinggapi dirinya ketika melihat Reza. Apalagi saat mengingat wajah kedua orang tuanya yang berlumuran darah, kebencian itu semakin bertambah besar.

Tetapi dalam lubuk hati yang terdalam, ia amat menyukai sosok Reza. Reza yang selalu dapat membuat tertawa semua orang disekitarnya, Reza yang selalu optimis dan Reza yang selalu bersemangat dalam menghadapi setiap masalah, bahkan di saat yang paling genting sekalipun.

Kenapa ia harus suka sama cowok yang juga ia benci setengah mati. Riri benar- benar nggak ngerti dengan perasaannya. Ayah cowok itu telah membuat ia kehilangan kedua orang tua, kebahagiaan dan masa depannya. Telah membuat ia harus berjuang bertahan hidup dengan membanting tulang bekerja setelah sekolah.  Air matanya mengalir semakin deras mendapati semua kenyataan ini. Mulai sekarang ia harus melupakan cowok itu. Harus, batin Riri.

***

Ramainya toko roti dan kue tempat Riri bekerja telah mengalihkan pikirannya untuk sejenak. Malam minggu seperti ini memang selalu ramai oleh pasangan yang ingin mencicipi kue coklat isi madu buatannya. Selain sebagai pelayan, Riri juga yang menemukan resep kue coklat isi madu tersebut. Hal itulah yang membuat Riri  yang notabene murid SMA bisa diterima menjadi pelayan dengan gaji yang lumayan. Gaji itu ia gunakan untuk membiayai sekolah dan hidupnya sehari- hari. Kakek dan nenek yang dulu merawatnya telah menyusul kedua orang tuanya di alam sana.

“ Kenapa elo ninggalin gue di UKS?” suara yang familiar tiba- tiba mengagetkan Riri dari kertas- kertas pesanan.

“ Reza! Ngapain elo kesini?” jawab Riri jutek. “ Kalo elo cuma mau gangguin gue, mending pulang aja. Gue lagi sibuk!” tambahnya tak kalah ketus.

“ Gue pengen kue coklat isi madu spesial buatanmu donk. Sama segelas cappuccino. Gue tunggu ya!” jawab Reza tanpa memperdulikan kebingungan Riri.

Setelah mendapat informasi dari Lily kalo Riri kerja part time di toko roti, maka Reza langsung mendatanginya. Niat awalnya seh mau mengajak Riri jalan- jalan sambil mengucapkan terima kasih. Tapi setelah melihat ramainya toko roti itu, Reza pun mengurungkan niatnya. Ia nggak mau Riri dapat masalah dengan atasannya. Dan sekarang ia harus sabar untuk  menunggu Riri sampai pulang. Baru ia akan menjalankan rencananya.

“ Ini pesenan elo, dan kalo udah selesai makannya cepetan pulang. Gue nggak mau elo lama- lama disini. Ganggu kerja gue aja,” kata Riri sambil menyerahkan pesenannya.

“ Tu cewek tambah jutek kok tambah cakep ya,” batin Reza.

***

Riri dam teman- temannya telah bersiap- siap untuk pulang. Meskipun malam minggu, tapi toko ini hanya buka sampai jam 8 malam. Banyaknya pembeli membuat sang manager toko memberikan waktu istirahat yang cukup untuk para karyawannya supaya bisa fit untuk keesokan harinya.

“ Ri, bisa ikut gue bentar nggak. Ada yang mau gue sampein,” kata Reza dari balik pintu toko sampai- sampai mengagetkan Riri dan teman- temannya yang akan pulang.

“ Elo! Ngapain elo masih disini. Bukannya udah gue suruh pulang tadi!” seru Riri.

“ Kita pulang duluan Ri. Met seneng- seneng ya,” kata salah satu teman Riri.

“ Eh Jangan. Gue juga mau pulang kok. Nggak ada yang perlu diomongin,” jawab Riri kepada teman- temannya.

Reza langsung menarik tangan Riri dan membawa cewek itu ke dalam mobilnya. Percuma saja Riri memberontak. Badannya yang kecil tidak akan bisa mengalahkan cengkraman Reza. Mobil melaju menembus ramainya jalanan Surabaya. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun Reza terus mengemudikan mobilnya dengan satu tangan. Sementara tangan yang satunya masih digunakan untuk mencengkeram tangan Riri. Ia takut kalo Riri sampai nekat lompat keluar mobil.

Mobil berhenti di sebuah tempat yang agak curam dengan pemandangan kota Batu di bawahnya. Ternyata Reza telah membawa Riri ke suatu tempat yang selalu digunakannya untuk menenangkan diri.

“ Lepasin tangan gue,” teriak Riri setelah memastikan kalo inilah tempat yang dituju oleh Reza.

Reza melepaskan tangan Riri dan langsung keluar dari mobil. Dia duduk di rerumputan sambil melihat indahnya kota Batu dengan pandangan kosong. Reza membiarkan cewek itu tetap di tempatnya dengan sejuta pertanyaan yang menggantung. Sementara Riri masih tidak tahu untuk apa Reza mengajaknya ke tempat yang bahkan dia tidak tau ada dimana. Merasakan ada yang tidak beres, Riri segera keluar dari mobil dan duduk di samping Reza yang sekilas seperti meneteskan air mata. Untuk saat ini rasa cinta Riri telah mengalahkan segala kebenciannya pada Reza.

Sorry gue udah maksa elo buat kesini. Gue nggak ada maksud apa- apa. Gue cuma mau ngucapin terima kasih sama elo karena udah ngobatin luka di lengan gue,” kata Reza pelan. Pelan banget bahkan untuk didengar Riri. “ Gue bisa ngerasain kok kalo elo benci banget sama gue. Bahkan sejak elo gabung di tim sepakbola sebagai petugas medis. Yang gue nggak ngerti kenapa elo benci sama gue. Padahal gue sayang banget sama elo,” lanjutnya tanpa sedikitpun memandang Riri.

Riri yang sebelumnya diam saja akhirnya mengeluarkan suara. “ Elo sayang sama gue?”

“ Ya. Sayang melebihi nyawa gue sendiri. Gue udah ngelakuin apa saja supaya bisa membuat elo enggak benci sama gue. Tapi sepertinya semua nggak ada yang berhasil. Elo tetep aja benci ke gue. Ngerasa putus asa karena usaha gue sia- sia, akhirnya gue memutuskan untuk memendam perasaan ini selama setahun lebih. Apa elo tau gimana rasanya? Apa elo tau gimana tersiksanya gue? Dan apa elo tau gue tetep nggak bisa ngelupain elo”.

Pengakuan Reza yang disaksikan malam semakin membuat hati Riri sakit, air mata menggenang di pelupuk matanya yang indah. “ Gue tau kalo gue udah salah benci sama elo. Elo nggak ada sangkut pautnya sama masalah gue. Tapi, gara- gara bokap lo, gue harus kehilangan kedua orang tua gue selamanya,” ucap Riri lirih sambil berusaha agar tidak menangis. Ingatan yang berusaha dikubur selamanya, akhirnya terbuka lagi. Dan ini membuat luka di hati Riri tergores kembali.

Untuk pertama kalinya Reza memandang Riri. Tapi Riri tetap memandang ke depan, terlalu sakit baginya untuk menceritakan ini semua. “ Saat umur gue 7 tahun, gue harus merelakan kematian kedua orang tua gue. Mereka ditabrak mobil ketika hendak menyeberang, dan orang yang menabrak itu hanya meninggalkan selembar kartu nama yang bertuliskan Hendra Setiawan kepada saksi mata sambil berkata untuk menghubunginya jika butuh biaya. Padahal yang dibutuhkan kedua orang tua gue saat itu adalah pertolongan secepatnya dari rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, orang tua gue nggak bisa diselamatkan lagi. Mereka kehabisan terlalu banyak darah karena terlambat dibawa ke rumah sakit”.

Kali ini Riri membiarkan air matanya jatuh. Selalu seperti ini jika ia mengingat kembali kejadian itu.” Sejak saat itu gue tinggal bersama kakek dan nenek gue. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Karena saat gue SMA mereka berdua juga telah tiada. Gue bener- bener sebatang kara di dunia ini. Gue harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan hidup sehari- hari gue.” Tangisan Riri semakin menjadi- jadi.

Sepasang tangan yang lembut menghapus air mata yang mengalir di pipi Riri dan memeluknya dengan erat. Seolah Reza bisa merasakan penderitaan cewek yang sangat disayanginya itu. Kenyataan bahwa orang tuanya lah yang menyebabkan ini semua membuatnya paham atas segala kebencian Riri padanya. Sekarang Reza benar- benar merasa bersalah. Dia seharusnya tau dari awal, sehingga beban yang ditanggung Riri tidak seberat ini.

“ Gue nggak pernah benci sama elo. Hanya saja gue selalu teringat orang tua gue saat melihat elo. Itulah kenapa gue memilih menghindari elo. Tapi semakin gue menghindar, justru gue ngerasa semakin sayang sama elo. Gue nggak tau kenapa gue bisa suka sama elo. Yang gue tau elo tiba- tiba aja bisa mengisi kekosongan hati gue,” ungkap Riri.

“ Gue janji kalo gue bakal ngelindungi elo, bakal membuat elo bahagia dan akan selalu ada  buat elo. Dan gue akan menggantiin posisi ortu elo buat menebus semua kesalahan bokap gue” janji Reza pada Riri sambil mengelus lembut rambut cewek itu. Riri manggut- manggut dalam pelukan Reza sambil bersyukur karena Tuhan telah mengiriminya malaikat penolong. Malampun seakan terdiam mendengar pengakuan kedua insan tersebut.

 

***

Categories: Home, Koleksi | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: