Coklat dan Jeruk

Siang itu tampak kegembiraan dan suka cita menyelimuti semua murid di SMA Persada, terutama murid- murid kelas 3. Tepat jam 11 siang pihak sekolah mengumumkan bahwa semua siswa kelas 3 lulus Ujian Nasional. Perasaan takut, was- was dan penasaran mereka terbayar sudah dengan wajah- wajah bahagia mereka.

Hampir bisa ditemukan kegilaan yang dibuat oleh anak- anak kelas 3 sebagai luapan kegembiraan. Tapi yang paling menggelikan adalah ulah anak- anak kelas 3 IPA 2. Mereka langsung membentuk ular- ularan panjang dan berkeliling ke seluruh bagian sekolah. Nyanyi- nyanyian terdengar dari mulut mereka. Kelas 3 IPA 2 menjadi kelas yang paling bahagia, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa kelas tersebut dicap sebagai kelas terburuk dari kelas yang lainnya, tetapi rata- rata nilai kelulusan mereka adalah yang terbaik.

Selesai bermain ular- ularan, sekelompok anak yang terdiri dari, Kesha, Raya, Izza, Santi, Lia, dan Dinda  memilih untuk makan di kantin. Sepertinya mereka telah kehabisan tenaga setelah bermain ular- ularan tadi. Sambil menikmati pesanannya, mereka mengobrol ringan tentang rencana rekreasi ke Dufan yang diadakan oleh pihak sekolah.

” Gimana persiapan elo- elo buat rekreasi besok?” tanya Santi memulai percakapan.

” Baik- baik aja.” jawab yang lainnya kompak. Mendengar jawaban yang sangat tidak memuaskan ini membuat Santi kesel setengah mati.

” Bukan begitu maksudnya!! Elo- elo pada buat rencana apa. Kayak gue nih, gue bakal naik semua wahana yang ada di sana, tanpa terkecuali. Kalo elo Kesh mo ngapain? Tanya Santi pada Kesha yang lagi makan bakso.

” Kalo Kesha seh pasti udah nyiapin rencana berduaan sama yayang Doni donk,” goda  Lia yang langsung mendapat lemparan tisu bekas dari Kesha.

” Suka- suka gue donk! Dia kan pacar gue, jadi mo gue apain juga itu hak gue,” sahut Kesha. ”Tapi gue seh berdoa supaya kita bisa satu bis dan …

”Dasar mesum!” sahut semuanya kompak sebelum Kesha bisa menyelesaikan omongannya.

”Bentar deh, ntar kan Kesha ama Doni, gue  ama Bayu, Lia nggak ikut, trus Raya mo Lesbian ma Santi, Lha trus Izza gimana?” tanya Dinda ngawur. Izza memang yang paling pendiam diantara yang lainnya, hal itulah yang menyebabkan mereka khawatir.

” Kalian nggak usah mikirin aku, aku kan bisa bertiga ma Raya dan Santi, biar mereka nggak lesbian beneran,” ungkap Izza yang kontan membuat semuanya tertawa.

” Sialan lo ,Za!” kata Santi. ” Elo juga seh Za, jadi cewek pendiam banget, jadi bikin kita- kita kasihan sama elo,” lanjutnya.

” Kok aku yang disalahin! Salahin Lia tuh yang nggak ikut,” Izza membela diri.

” Gue kan nggak boleh sama ortu, jadi nggak salah gue, itu berarti salah ortu gue,” sahut Lia yang juga membela diri.

” Iya yang anak mama,” sahut mereka kompak.

Mereka terus ber haha hihi sampai ada anak yang masuk ke kantin dan ngasih pengumuman kalo daftar pengumuman bisnya udah keluar. Mendengar hal itu, semua anak yang ada di kantin langsung menyerbu papan pengumuman yang letaknya tak jauh dari kantin. Raya yang badannya paling kecil mendapat tugas untuk melihat informasi tersebut. Dengan sedikit senggal senggol akhirnya dia bisa melihat dengan leluasa dan segera kembali kepada teman- temannya yang menunggu tak jauh dari papan pengumuman tersebut.

” Gawat, gawat banget!!!” kata Raya.

” Gawat apanya ?” tanya Dinda.

” I-Itu…

” Itu apanya?” sela Santi.

” Biarin gue ngambil napas dulu kenapa seh,” kata Raya sewot. ” Izza Din, dia di bis yang berbeda dari dengan kita- kita semua,” lanjut Raya. ” Dan parahnya dia di bis bareng anak- anak 3 IPS 1”.

” Itu seh bukan gawat lagi, tapi darurat alias emang gawat beneran, kayak nggak kenal anak- anak itu aja. Mereka kan nyebelinnya minta ampun,” Lia ikut nimbrung.

” Kenapa jadi kalian yang heboh dan bingung, aku aja biasa- biasa aja kok. Lagian aku yakin kok kalo bisa dapet temen sebangku yang asyik. Enggak mungkinlah satu kelas nyebelin semua,” kata Izza menanggapi kehebohan teman- temannya.

” Temen sebangku yang asyik ya,” kata Dinda pelan, sampai- sampai tak ada satupun yang mendengar.

***

Besok siangnya, SMA Persada sudah dipenuhi anak- anak kelas 3 dan beberapa orang guru yang akan mengawal. Bis masih belum juga dateng, tapi anak- anak udah pada heboh. Ada yang sibuk memilih teman sebangku, ada juga yang masih ngeyakinin ortunya kalo bakal baik- baik saja.

” Gimana kalo Ria kita tukar aja ma Izza, dia kan nyebelin,” Santi mengusulkan.

” Sayangnya bapak Wakasek udah bilang kalo nggak boleh tukeran, susah ngabsen katanya,” Kesha menambahi.

” Elo semua tenang aja deh, gue udah  nyiapin solusinya kok, sebentar lagi dia pasti dateng,” kata Dinda tak sabar sambil menanggapi teman- temannya. Beberapa saat kemudian ada cowok yang datang menghampiri mereka.

” Ini dia orangnya,” kata Dinda tiba- tiba sambil menunjuk seorang cowok yang kini ada di depan  mereka.

Guys, kenalin. Ini Alfa, elo semua pasti kenal sama dia,” tambah Dinda sambil memperkenalkan si cowok pada teman- temannya.

” Ini kan anak 3 IPS 1, Din!” tanya Raya.

” Iya, dia temen les gue dan gue udah nugasin ke dia buat njaga Izza,” jelas Dinda menjelaskan tentang rencananya yang menurutnya sempurna.

Tak berapa lama bispun datang, tapi Izza yang ditunggu- tunggu tak juga datang.

” Elo masuk aja dulu, ntar kalo Izza masuk bis, baru deh tugas lo dimulai,” kata Dinda sambil bersiap- siap masuk bis juga.

” Emang lo kira gue baby sitter apa,” dengus Alfa gusar.

***

 

Didalam bis sudah penuh sesak dengan anak- anak yang sibuk mencari tempat duduk dan teman sebangku tentunya.

Begitu masuk bis, Izza bingung setengah mati dimana dia harus duduk, ternyata diluar dugaannya. Bis udah penuh dan dia nggak tahu masih ada kursi kosong atau nggak.

”Ini semua gara- gara aku terlalu lama nyiapin burger buat bekal,” batinnya sambil celingak- celinguk mencari tempat duduk. Saat hampir putus asa, tiba- tiba ada yang menarik tangannya seraya mengisyaratkan supaya dia duduk disebelahnya. Untunglah ada orang yang baik hati mau membagi tempat duduknya buat dia.

”Terima kasih,” ucap Izza sambil membenahi letak kacamata supaya dapat melihat orang yang menolongnya. Ternyata Alfa, cowok idola semua cewek satu sekolah. Cowok yang terkenal dingin dan sulit ditaklukin bagi para cewek.

Tapi cowok itu cuek saja. Izza pun nggak ambil pusing dengan kejadian ini. Ia udah terlalu sering dicuekin sama orang. Sampai ada suara cewek yang culas banget mengganggu konsentrasinya yang lagi telepon ortunya.

” ..oo… jadi ini cewek yang elo tunggu dari tadi buat jadi teman sebangku elo. Cewek cupu dari kelas IPA,” kata seorang cewek yang Izza kenal bernama Shelvy, cewek populer yang digandrungi para cowok sekolah. Tapi tidak bagi Alfa.

Alfa terlihat cuek menanggapi omongan kasar dari Shelvy, memang seperti itulah gayanya. Hal ini  mau tak mau membuat Shelvy jengkel setengah mati dan langsung kembali ke tempat duduknya semula. Izza sampai ngeri ngelihat ekspresi muka Alfa. Andai aja dia bisa pindah tempat duduk, batin Izza.

Tak mau terlalu memikirkan tentang teman sebangku yang begitu dingin , Izza pun mengeluarkan kotak bekalnya yang berisi 2 buah burger. Dia mengambilnya satu dan memakannya sepanjang perjalanan.

” Gue nggak nyangka ternyata elo bener- bener pendiam, sampai- sampai nggak menawari teman sebangkunya. Apa elo nggak pernah diajari buat berbagi sama orang lain,”?? Tanya Alfa yang langsung membuat Izza merah padam saking malunya.

S-Sorry…” Izza nggak bisa melanjutkan omongannya sambil menata letak kacamatanya untuk mengurangi rasa gugup. Izza emang nggak pernah dekat sama mahkluk yang namanya cowok. Bagi dia cowok itu hanyalah makhluk yang diciptakan untuk melengkapi isi dunia.

” Gue kan juga laper,” Sahut Alfa sambil mengambil burger Izza tanpa permisi dan langsung memakannya dengan lahap sampe sausnya belepotan di mulut.

Izza hanya bisa geleng- geleng melihat kelakuan Alfa yang berbeda 180 derajat dari tampangnya itu.

” Ini,” kata Izza sambil menawarkan tisu pada Alfa setelah dilihatnya Alfa telah selesai menghabiskan satu burger buatannya.

Thanks. Enak banget burgernya! Beli dimana?” tanya Alfa.

” Aku yang membuatnya sendiri,” sahut Izza malu- malu.

” Kenalin, gue Alfa. Gue ditugasin sama Dinda buat jagain elo selama tour ini,” celetuk Alfa yang langsung membuat muka Izza merah padam, persis kayak saos burgernya.

…Whatzz… apa- apaan seh si Dinda ini, batin Izza.

***

…..Hahaha…..

Terdengar keriuhan tawa dari sekelompok cewek yang sedang membahas sesuatu.

” Jangan angkat teleponnya, Din,” kata Santi.

” Iya, jangan diangkat,” tambah Kesha.

” Bener juga. Kita biarin Izza sama Alfa aja,” Sahut Dinda sambil tertawa sekeras- kerasnya tanpa mempedulikan Izza yang tak henti- hentinya berusaha menelpon mereka.

***

Menjelang malam, bis berhenti di suatu rest area untuk mempersilahkan para siswa siswi yang hendak apa saja. Ada yang langsung pergi ke toilet karena kebelet, ada yang pergi ke toko untuk membeli perbekalan dan ada juga yang sekedar menghirup udara bebas.

Sampai bis akan berangkat lagi, Izza tetap tidak bisa menemukan dimana teman- temannya. Izza menduga kalau mereka pasti ngumpet di suatu tempat supaya tak bisa dimintai penjelasan tentang rencana Dinda yang menurutnya sinting itu.

” Ayo anak- anak kembali ke bis. Perjalanan akan segera dimulai lagi, kecuali kalian memang berniat untuk tinggal disini saja,” suara Pak Wakasek telah membahana ke segala penjuru rest area melalui mega phone.

….Haaah….

Terdengar hela nafas panjang anak- anak yang pastinya menganggap bahwa perjalanan ini akan berlangsung lama dan tampak membosankan.

” Apa elo salah satu anak yang berniat untuk tinggal disini saja?” Tiba- tiba terdengar suara Alfa di belakang Izza yang kontan membuatnya kaget.

”  Ya enggaklah. Apa kamu pikir aku bayar mahal- mahal cuma buat ditinggal ditempat yang bahkan aku tak tahu ada dimana.” Sahut Izza sambil masih tetap celingak- celinguk untuk mencari teman- temannya. Ini adalah kalimat terpanjang yang diucapkan Izza kepada Alfa sejak mereka ketemu.

Bis pun kembali melaju menyusuri jalur pantura yang berkelok- kelok seperti ular yang berbaring di tepi pantai.

***

Hari telah menjelang tengah malam, tapi Izza bahkan tak bisa memejamkan matanya. Dilihatnya semua teman- teman di bis telah terbuai dalam indahnya dunia mimpi. Pun begitu dengan cowok yang telah tega- teganya menghabiskan bekal burgernya dan membuatnya lapar setengah mati saat ini.

…Kryyuuk…

” Aduh kenapa perutku pake bunyi segala. Selapar apapun juga nggak pernah bunyi kok biasanya,” batin Izza. ”Untung aja semua orang sudah tidur,” tambahnya dalam hati sambil mengelus- elus perutnya seraya menyuruhnya untuk bersabar.

Sorry, karena gue udah ngabisin burger elo. Abis enak banget seh,” kata sebuah suara sambil mengulurkan sebungkus roti.

” K-kamu belum tidur?” balas Izza sambil tergagap setelah menyadari kalo Alfa ternyata belum tidur dan kenyataan bahwa dia mengetahui tentang perutnya yang kelaparan semakin membuatnya pengen membenturkan kepala ke kaca jendela bis saking malunya.

” Udah, nggak usah malu. Ini manusiawi kok. Mending kamu makan roti yang udah tak beli dari rest area tadi. Gue nggak mau ya kalo sampe elo kenapa napa gara- gara gue.” sahutnya sambil memberikan rotinya pada Izza.

Izza menerima roti pemberian dari Alfa dengan setengah malu dan memakannya dengan lahap. Tapi langsung berhenti seketika.

” Kenapa?” tanya Alfa heran. Dia spontan langsung merebut roti dari tangan Izza dan mengecek tanggal kadaluarsanya. ” Masih baru kok,” lanjutnya setelah memastikan tanggalnya.

” Aku alergi coklat,” sahutnya setelah menyadari kalo itu roti isi coklat. Dia jadi menyesal karena tidak membaca kemasannya dulu. Dan sekarang dia benar- benar menyesal.

Sorry, gue bener- bener nggak tau! Tapi elo nggak apa- apa kan?” tanya Alfa saat menyadari kalo muka Izza jadi pucat bahkan dalam keremangan cahaya di dalam bis.

Izza nggak menyahut, dia hanya sibuk memejamkan mata sambil sesekali mengernyit menahan rasa sakit di perutnya yang diakibatkan oleh coklat tadi. Melihat hal ini Alfa semakin takut dan bingung. Niatnya untuk mengganti burger Izza dengan roti coklat malah berujung petaka. Apa yang harus dilakukannya sekarang. Dia sama sekali nggak tau, karena ini adalah hal teraneh yang pernah ditemuinya.

” Tolong cariin aku jus jeruk. Jus jeruk bisa sedikit meredakan sakitku,” pinta Izza pada Alfa tanpa sedikitpun menoleh. Karena dia tahu Alfa nggak akan bisa menemukan jus jeruk dalam keadaan seperti ini.

Jus jeruk. Alfa langsung membuka tasnya begitu teringat kalo dia selalu membawa soft drink rasa jeruk saat akan bepergian dan mengambil jus jeruknya.

” Za, ini jus jeruknya. Gue bantu elo buat minum ya?” pinta Alfa sambil membantu Izza buat meminum jus jeruknya itu.

Izza menurutinya. Karena dia merasa benar- benar lemas.

” Alergi yang aneh,” batin Alfa setelah membantu Izza bersandar di bahunya, supaya cewek itu dapat beristirahat dengan nyaman. Sebelumnya nggak pernah sekalipun Alfa mengizinkan cewek untuk sekedar bersandar di bahunya. Tapi saat ini ia bahkan memeluk Izza layaknya anak kecil yang harus dilindungi dari segala yang dapat menyakitinya. Ada perasaan aneh yang ia rasakan terhadap Izza. Entah hanya perasaan bersalah atau perasaan ingin membuat cewek di sampingnya itu merasa aman berada dipelukannya. Ia juga nggak tau.

***

 

 

Categories: Home, Koleksi | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: