The Power of Love

Gadis itu tampak lelah. Wajahnya terlihat pucat dan muram. Awalnya  Ari mengira itu adalah efek dari remang- remangnya pencahayaan. Namun, bahkan di tempat terang pun wajahnya terlihat suram. Tubuh yang tak berdaya dan mata yang sayu menandakan betapa lemahnya gadis itu. Gadis yang selalu Ari amati akhir- akhir ini.

Ari termenung duduk di pojok ruangan. Agak jauh dari hingar bingar café, tetapi tetap saja bisa melihat si gadis. Segelas lemon squase yang sedari tadi dia pesan bahkan belum disentuhnya sama sekali.

.…Plak….

“ Kalo nggak bisa kerja, ya nggak usah kerja!” jerit salah seorang tamu sambil menampar muka gadis itu. “ Apa kamu tahu, baju yang saya pakai ini lebih mahal dari pada gaji kamu,” tambahnya.

“ M-maafkan saya tuan! Saya tidak sengaja,” sahut si gadis.

“ Cepat pergi! Dasar gadis nggak tau sopan santun,” hardik sang tamu.

Gadis itu langsung pergi tanpa disuruh untuk yang kedua kalinya. Baginya omelan dan hardikan dari para tamu adalah makanan sehari- harinya dan ia selalu bersabar menerima semua itu. Hinaan, cacian dan makian memang menjadi makanan setiap hari sejak kematian ibunya yang tercinta.

Ia terpaksa meninggalkan bangku kuliah, padahal ini tahun terakhirnya. Ketiadaan biaya dan tuntutan hidup memaksanya kerja banting tulang. Belum lagi hutang yang ditinggalkan ayahnya sebelum dia kabur dengan istri barunya, memaksa gadis itu untuk melunasinya. Hal itu jugalah yang membuat sang ibu terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal.

***

…Haaah…

Terdengar hembusan nafas kelegaan dari mulut gadis itu saat café mulai tutup. Satu hari lagi dalam hidupnya telah dilalui. Entah sampai kapan lagi ia sanggup bertahan. Sempat terlintas olehnya untuk mengakhiri hidup, tetapi ia ingat pesan dari ibunya untuk terus berusaha dan berdoa serta jangan menyerah. Selalu ada kemudahan dibalik segala penderitaan. Itu juga pelajaran yang dia dapat dari gurunya.

Langkahnya terseok- seok saat meninggalkan café tempatnya bekerja. Ajaib sekali ia tidak menabrak apapun.

…Plakk…

Tamparan yang sangat keras menyadarkannya. Gadis itu kaget mendapati ada dua orang laki- laki yang tinggi besar sedang menghadangnya. Dia mengenali kedua orang itu sebagai penagih hutang ayahnya. Tubuhnya yang lemah membuatnya tidak bisa melarikan diri. Dan datang tamparan kedua yang membuatnya sampai terjatuh.

…Plakk…

“ Kapan elo bakal bayar hutang! Hutang keluarga elo itu udah mencapai 7 juta,” hardik salah satu dari mereka yang berbadan lebih kecil tapi lebih gendut. “ Jawab!” tambahnya ketika melihat kalo si gadis hanya diam di tempatnya terjatuh tadi.

Salah satu dari mereka yang lebih tinggi telah bersiap untuk menendang si gadis ketika tepat dapat di tangkis oleh seseorang.

“ Kalian berdua apa- apaan! Nggak tau apa kalo dia itu cewek,” kata orang itu yang tak lain adalah Ari. Firasatnya yang mengatakan kalo ia harus mengikuti gadis itu. Sempat terlintas kekhawatiran ketika ia tidak menemukan gadis itu dimana- mana. Ari yang menunggu di pintu depan tidak mengetahui kalo si gadis pulang lewat pintu belakang.

“ Siapa elo? Ngapain ikut campur! Ini urusan kita sama tu gadis miskin!” teriak orang yang lebih tinggi.

“ Gue temennya! Jadi ini juga urusan gue,” jawab Ari.

…Bug..

Sebuah pukulan yang keras menghantam wajah Ari dan membuat bibirnya berdarah.

“ Itu hadiah karena elo udah ikut campur,” ujar mereka.

“ Dasar brengsek!” teriak Ari yang membuat kedua penagih hutang itu naik darah.

…Bug…

Sekali lagi pukulan menghantam wajah Ari. Sebenarnya dia bisa saja menghindar dan balik menyerang kedua orang itu. Tapi hal itu urung dilakukannya, karena tidak mau membuat si gadis tambah takut.

“ Kalo elo mau tau kenapa kita nyiksa tu gadis, itu karena keluarganya punya hutang 7 juta sama bos gue, belum termasuk bunganya. Gue bakal biarin dia hidup kalo dia bisa bayar hutang itu,” kata orang yang pendek.

Tanpa pikir panjang, Ari melemparkan amplop berisi uang kepada kedua orang itu. Uang itu awalnya akan ia berikan kepada si gadis.” Itu duit buat bayar hutangnya. Jumlahnya 10 juta. Jadi mulai sekarang kalian jangan ganggu dia lagi,” teriak Ari.

“ Ok! Gue nggak mau tau siapa elo. Yang penting gue udah dapet duitnya. Dan gue janji nggak bakal ganggu dia lagi,” kata salah satu dari mereka.

Merekapun akhirnya pergi dan meninggalkan Ari dengan si gadis yang masih juga terlihat lemah dan ketakutan.

“ Elo nggak papa?” tanya Ari sambil membantu gadis itu untuk berdiri. “ Tenang aja. Gue bukan orang jahat yang akan nyakitin elo kok!” lanjutnya ketika melihat sorot mata ketakutan dari gadis itu.

“ K-kamu siapa?” gadis itu akhirnya bersuara.

“ Gue Ari. Senior elo di kampus,” jawab Ari.

“ S-senior? tanyanya lagi.

“ Iya. Elo Bunga kan? Anak tingkat delapan!”

“ Dari mana kakak tau aku?”

“ Gue selalu merhatiin elo ketika di perpus.” kata Ari. “ Ayo, lebih baik gue anterin elo pulang dulu. Baru nanti elo boleh nanya lagi. Udah larut malam neh,” lanjutnya sambil menuntun Bunga ke mobilnya.

 

***

“ Itu rumahku,” kata Bunga sambil menunjuk sebuah rumah yang sederhana. Rumah bercat putih dengan halaman yang tidak terlalu luas itulah satu- satunya peninggalan orang tua Bunga. Di rumah kecil tapi terawat rapi itulah Bunga tinggal sendirian selama setengah tahun terakhir ini.

“ Kakak duduk dulu disini, aku buatin minum,” kata Bunga ketika mereka telah berada di dalam rumah. Ari mengangguk.

Beberapa saat kemudian Bunga kembali ke ruang tamu dengan segelas susu coklat panas dan ember yang berisi air dingin.

“ Aku kompres memar di wajah kakak ya?” tanya Bunga malu- malu sambil duduk di samping Ari.

Ari menjerit pelan sambil memegang tangan Bunga ketika handuk dingin itu menyentuh luka memarnya.

“ Masak kakak kesakitan cuma gara- gara dikompres. Tapi berani banget saat menghadapi dua orang preman sekaligus,” goda Bunga sambil tertawa. Tawa Bunga yang pertama kali Ari lihat sejak kepergiannya dari kampus. Ari  juga ikut tersenyum meski untuk alasan yang berbeda.

“ Gimana kak? Udah agak mendingan belum?” tanya Bunga setelah selesai mengompres memar di wajah Ari.

“ Iya. Udah enakan dikit kok!” jawabnya.

“ Sekarang kakak minum dulu susu coklat hangatnya. Nanti perasaan kakak pasti akan kembali tenang.”

Ari meminum setengah dari susunya dan memberikan sisanya kepada Bunga.

“ Elo juga minum ya! Biar elo juga bisa ngerasa tenang dan bahagia lagi.”

Bunga menurut dan berpikir kalo sepertinya sudah lama sekali Bunga tidak pernah merasa sebahagia ini. Tentu saja kebahagiaan ini tidak dikarenakan susu coklat.

“ Kakak. Terima kasih ya atas semuanya. Aku janji akan ngembaliin uang kakak secepat aku bisa,” kata Bunga setelah selesai menceritakan semua yang terjadi padanya.

“ Bunga nggak usah pikirin itu dulu saat ini. Kakak pikir lebih baik Bunga istirahat saja sekarang. Bunga pasti udah capek.” kata Ari.

“ Tapi kakak nggak bakal pulang kan?” tanya Bunga polos. Bunga nggak ngerti kenapa dia bertanya seperti itu dan sekarang dia benar- benar malu.” Maksud Bunga sekarang kan udah tengah malam, jadi… jadi…” Bunga tidak dapat meneruskan kata- katanya.

“ Kakak ngerti kok maksud Bunga,” kata Ari.” Ya udah kalo gitu Bunga cepetan tidur. Kakak nggak bakal kemana- mana kok,” lanjutnya.

Sambil malu- malu Bunga pergi ke kamar tidurnya. Dia mengintip dari dalam kamar tidurnya Ari telah tertidur di sofa. Bunga pun kembali ke ruang tamu dan menyelimuti Ari. Sambil menatap wajah Ari yang memar, Bunga berdoa “ Ya Allah, terima kasih karena engkau telah mengirimkan malaikat kepadaku. Terima kasih karena engkau telah mengabulkan semua doa- doa hamba selama ini”.

***

Pagi- pagi sekali Bunga telah bangun dan setelah mandi ia pergi ke pasar untuk membeli segala keperluan. Ia berniat akan memasak sarapan yang istimewa untuk tamunya yang masih tertidur saat ia tinggal tadi. Hari ini perasaan Bunga sangat bahagia. Itu terlihat jelas dari wajahnya yang berseri- seri, make up tipis semakin menambah cerah di wajahnya, dan seakan beban berat telah diangkat dari tubuhnya.

Sesampainya di rumah, Bunga melihat kalo malaikat penolongnya masih terlelap. Maklumlah masih jam 5 pagi, Bunga aja yang bangunnya emang kepagian. Beberapa saat Bunga terus mengamati wajah tamunya itu. “ Cakep juga!” katanya dalam hati.

Mencium bau masakan dari dapur, membuat Ari terbangun. Ia kaget mendapati bantal dan selimut di tubuhnya.” Kapan dia memakaikannya,” batin Ari.

“ Ehm Ehm,” suara Ari yang berdehem mengagetkan Bunga. Bunga pun langsung menengok ke arah sumber suara.

“ Cantik banget Bunga pagi ini!,” kata Ari dalam hati saat melihat Bunga yang pagi itu memang terlihat berbeda dari sebelumnya.

“ Selamat pagi. Kakak udah bangun! Sekarang kakak mandi dulu, itu udah Bunga siapin peralatan mandinya di kamar mandi,” kata Bunga sambil tersenyum manis banget.

…Deg…

Perasaan apa ini? Kenapa gue ngerasa aneh saat ngeliat Bunga pagi ini. Bunga yang tersenyum sambil mengucapkan selamat pagi, Bunga yang menyuruhnya untuk mandi, Bunga yang menyiapkan alat- alat mandi, Bunga yang memasak untuknya. Kenapa pagi ini gue ngerasa kalo Bunga itu adalah istri gue. Astaga! batin Ari sambil senyum- senyum malu.

“ Kenapa kakak masih disitu sambil senyum- senyum? Ayo cepetan mandi kak!” perintah Bunga. “ Ya Allah, perasaan apa ini. Kenapa aku jadi bersemangat sekali hari ini dan kenapa aku merasa begitu nyaman dengan keberadaan kakak,” kata Bunga dalam hati.

Merasa malu dengan perasaannya, Ari segera pergi ke kamar mandi.

 

***

“ Untung aja kemejanya pas ya kak?” kata Bunga saat dilihatnya kemeja merah tua yang dibelinya untuk Ari tadi ukurannya pas. “ Kak Ari jadi keliatan tambah keren kalo pakai kemeja. Astaga!” tambahnya pada diri sendiri.

“ Terima kasih ya!” jawab Ari.

“ Iya. Sama- sama.”

“ Apa elo bakal balik kuliah lagi?” tanya Ari disela- sela sarapannya.

“ Nggak kak!” jawab Bunga.

“ Kenapa? Hutang keluarga elo kan udah lunas. Elo bisa kerja setelah pulang kuliah kan?”

“ Bunga berfikir kalo Bunga harus menjalani hidup Bunga yang sekarang aja, kak! Lagian Bunga juga sudah nggak punya siapa- siapa lagi.”

“ Tapi Bunga. Pendidikan itu penting banget, lagian apa Bunga nggak pengen lulus kuliah dan mendapatkan hidup yang lebih baik.” kata Ari panjang lebar.

“ Bunga ngerasa kalo inilah jalan hidup Bunga, kak. Bunga akan tetap bekerja di café itu.

“ Memangnya Bunga tau bakal hidup sampai kapan? Nggak kan?  Kalo Bunga tetep seperti ini gimana nasib suami dan anak- anak Bunga nantinya!”

“ Suami dan Anak- anak?. Kakak, Bunga itu udah mutusin kalo nggak bakal menikah. Bunga nggak percaya sama semua laki- laki. Bunga takut kalo bakal disakiti kayak ibu.” ujar Bunga polos sambil menitikkan air mata saat mengingat tentang keluarganya yang kacau balau.

“ Apa itu artinya elo juga nggak mau jadi istri gue?” kata Ari tiba- tiba. Mendengar hal ini membuat Bunga sedih sekaligus bahagia.

“ Kakak, udah jam 7. Kakak kan harus kerja. Ayo cepetan selesaiin sarapannya. Nanti kakak terlambat lho,” kata Bunga mengalihkan pembicaraan.

 

***

Categories: Home, Koleksi | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: