Yang Kedua

Cuaca sore yang cerah dan bersahabat mengiringi langkahku menuju tempat latihan. Minggu ini adalah untuk yang kesekian kalinya aku berlatih musik, maklum baru tiga bulan ikut jadi masih semangat- semangatnya. Langkah demi langkah yang kulalui menjadi temanku menuju tempat latihan. Aku memang selalu berjalan menuju tempat latihan, karena jaraknya lumayan dekat dari rumahku, hitung- hitung ngirit ongkos.

Sambil terus memikirkan acara latihan yang akan aku lalui, aku terus melangkahkan kaki sambil sesekali bersenandung.

…Tiiit……

Aku dikagetkan oleh bunyi klakson sepeda motor, tetapi aku cuek saja, toh aku sudah berjalan di trotoar. Sepeda motor itu berhenti disampingku, seorang cowok membuka helm dan tersenyum ke arahku.

”Sore May,” kata si cowok.

“Sore,” jawabku singkat dengan nada jutek setelah mengetahui siapa si pengendara motor nan resek tersebut.

“ Singkat banget jawabnya!” lanjut cowok itu yang aku kenal bernama Galang. Dia temenku di sanggar musik dan baru sebulan ini dia ikut latihan.

” Emangnya kamu mau aku jawab gimana?. Sore juga Galang, sore yang cerah ya! Nggak ada hujan, nggak ada petir, nggak ada badai. Coba  kalo itu terjadi pasti aku bakal kehujanan, kesamber petir, basah kuyup bla bla bla …”

”Hahaha… Lama nggak ketemu tambah cerewet aja tu mulut,” potong dia sambil tertawa lebar, sampai- sampai hampir terjatuh dari motor saking hebohnya ketawa. Hal ini mau tak mau membuatku tambah  kesel setengah mati.

Galang emang udah membuat aku bad feeling sama dia sejak awal ketemu. Belum lagi ditambah serentetan sikapnya yang super super nggak jelas.

” Ya nggak gitu kali. Aku seh pengennya kamu jawab ” Sore juga Galang sayang, kamu keren deh sore ini, gitu May,” sahut Galang makin nyebelin sambil  melihat Mayang yang sudah mulai jengkel dengannya.

” Udah ah! Males aku berdebat sama kamu,” jawabku sambil berlalu meninggalkan Galang. Menurutku Galang itu orangnya nyebelin banget, suka banget membuat aku kesel setengah mati, baik karena ucapannya, maupun perbuatannya.

” Ayo naik,” kata Galang yang tiba- tiba sudah berada disampingku lagi. ” Emang kamu mau disuruh push up 50 kali gara- gara telat,” lanjutnya.

Spontan saja aku langsung melihat jam tanganku, gawat tinggal 5 menit lagi latihan vokal akan dimulai. Mungkin nggak ya aku bisa sampai ke tempat latihan dalam waktu 5 menit saja, pikirku dalam hati.

” Nggak usah kebanyakan mikir, ayo cepetan naik,” sahut Galang di tengah- tengah lamunanku, tentang apa yang harus aku lakukan.

” Oke aku ikut, tapi kamu jangan mikir kalo aku ngalah,” jawabku ketus sambil naik ke atas motornya.

Up to you,” katanya singkat sambil langsung memacu motornya menuju tempat latihan.

***

Aku terdiam duduk dipojok ruangan begitu latihan vokal dinyatakan selesai, pengen muntah tapi nggak bisa, kepala rasanya pusing tujuh keliling ditambah mata yang ikutan berkunang- kunang. Dari jauh kulihat  Nia, salah satu temenku datang mendekat.

” Kamu nggak papa  May,” tanyanya sambil menampakkan raut muka cemas, yang aku tahu tidak dibuat- buat. ” Nih minum,” lanjutnya sambil menyerahkan sebotol air minum padaku.

” Nggak papa kok,” jawabku lemas.

Hukuman push up 50 kali memang hampir membunuhku. Ini tempat latihan musik atau tempat militer seh. Belum lagi, aku dan Galang yang datang telat, masih harus langsung mengikuti latihan yang luar biasa melelahkan itu. Ternyata waktu 5 menit tidak cukup untuk membuat kami datang tepat waktu. Tapi untung saja latihan hari ini berakhir 25 menit lebih cepat dari biasanya. Sepertinya aku harus berterima kasih pada tamu- tamu yang tak aku kenal itu. Mereka ada urusan dengan pelatihku yang berarti telah menyelamatkan aku dari mati muda.

” Thanks ya minumnya,” kataku sambil menyerahkan botol minum kepada Nia. ” Aku nggak papa kok! Beneran deh,” tambahku untuk meyakinkan sahabatku tersebut.

” Ya udah, hati- hati ya kamu. Aku harus pulang dulu, udah dijemput,” pamit Nia yang sudah tampak lega. Dia tidak menawariku untuk mengantar pulang, karena sudah ratusan kali aku menolak kebaikannya itu.

” Kamu juga hati- hati,” balasku.

Uh, rasanya badanku remuk, kepalapun pengen pecah, pusing banget. Aku pengen cepat- cepat pulang kerumah untuk segera bersembunyi dibalik selimut yang hangat. Tetapi baru selangkah aku berjalan untuk ganti baju, muncul Galang didepanku.

” May, kamu nggak papa?” tanya Galang tiba- tiba sambil memasang ekspresi raut muka yang tak bisa ditebak. Aku sempat berikir kalo Galang ini bisa menghilang atau semacamnya, karena sudah terlalu sering dia begitu tiba- tiba telah berada disekitarku.

” Ya nggak papa lah! Emangnya kenapa aku harus kenapa- kenapa! Apa aku kelihatan seperti orang yang mau mati atau semacamnya,” jawabku asal.

” Ya nggak seh, tapi muka kamu pucat banget!” kata Galang.

” Udah dibilangin nggak papa kok. Ini seh masalah kecil,” jawabku sambil menjentikkan jari kelingking.

Aku memang selalu bersikap sok kuat, meskipun aku bener- bener udah pengen pingsan. Aku terlalu keras kepala untuk mengakui kalo aku sedang sakit, karena aku nggak mau terlihat lemah didepan orang lain, apalagi didepan Galang, cowok yang aku benci tapi juga yang aku suka sejak pertama kali dia ikut latihan. Tapi, perasaan itu harus aku buang jauh- jauh, Galang udah punya cewek, cantik lagi. Begitulah yang aku dengar dari teman- temannya.

” Kamu cepetan ganti, aku tunggu diluar. Aku anter kamu pulang,” katanya membuyarkan lamunanku.

Aku tidak menjawab, pasti percuma. Kalo dia punya keinginan, nggak akan ada yang bisa menghalanginya. Apalagi dengan kondisiku yang seperti ini, sangat tidak memungkinkan untuk berdebat. Lagipula dia pasti berpikir kalo ini semua adalah kesalahannya.

Beberapa saat kemudian, Galang telah memacu motornya berlawanan arah dengan arah kerumahku. Aku tak ingin bertanya kemana dia akan membawaku, aku percaya kalo dia nggak akan mencelakakan aku. Terlebih lagi aku sudah tidak sanggup mengatakan apa- apa lagi. Aroma tubuh Galang yang wangi sabun membuat aku merasa semakin tenang  berada dibelakangnya, bersandar dan memeluknya erat. Ini semua keinginan Galang, karena dia takut aku jatuh.

” Siapapun pacarnya Galang, maafin aku, aku pinjam dia dulu ya,” batinku sambil tersenyum.

***

Akhirnya aku tahu kemana Galang membawaku. Dia membawaku kesebuah taman , yang meski telah gelap, tetap saja terlihat keindahannya. Galang mengajakku kesebuah sudut yang lumayan jauh dari keramaian orang- orang yang aku tahu sedang menghabiskan malam bersama keluarga maupun pasangannya.

” Ini makanlah!” kata Galang sambil menyerahkan sebatang coklat padaku. ” Aku pernah denger kamu bilang kalo coklat itu obat yang ampuh untuk membuat perasaan menjadi gembira,” lanjutnya. ” Kamu tahu nggak betapa khawatirnya aku waktu ngelihat keadaan kamu tadi. Aku takut banget terjadi sesuatu sama kamu.”

…Uhuk- uhuk..

Aku terbatuk karena tersedak coklat, cepat- cepat Galang mengeluarkan air minum dari dalam tasnya dan memberikannya kepadaku sambil menepuk- nepuk punggungku. Dilihat Galang dari jarak yang begitu dekat seperti itu membuat wajahku memerah. Meskipun biasanya aku cuek saat berada disamping Galang, tapi kali ini berbeda. Dia terus menatapku seperti mau mengatakan sesuatu.

Hening sesaat. Yang terdengar hanyalah suara orang yang berlalu lalang di sekitar kita.

” Tolol banget seh. Masak makan coklat aja sampe tersedak,” bisiknya.

” Apa!,” jeritku marah. Entah mengapa, saat itu aku merasa kalo Galang begitu menyebalkan. Dia menjadi Galang yang biasanya lagi. Kami berdua tenggelam dalam lamunan masing- masing. Aku merasa Galang ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada satu katapun yang terucap dari mulutnya, satu jam kemudian dia mengajakku pulang.

” Apa kamu udah agak baikan?” tanyanya.

” Iya, thanks banget buat coklatnya,” jawabku.

Kelegaan tampak diwajah Galang. “ Bagus deh, jadi kamu kan nggak perlu meluk aku lagi. Aku nggak bisa nafas, kenceng banget seh,” kata Galang nyebelin yang mau tak mau membuatku malu sekaligus kesel.

Beberapa saat kemudian aku sudah sampai rumah. Setelah berpamitan, Galang langsung pulang. Sesaat sebelum masuk rumah, ada SMS yang masuk ke ponselku.

Yang pertama belum tentu lebih baik dari yang kedua. Semua hanya masalah waktu dan keberuntungan. Good night. Mimpiin aku ya, Yang. Galang.

Tanpa pernah tahu apa maksud SMS Galang tadi, aku berjalan lunglai menuju kamar dan yang aku inginkan saat ini adalah istirahat.

” Udah lama juga dia nggak pernah manggil aku Yang, tapi aku kan udah pernah bilang untuk manggil aku May, bukannya Yang,” batin Mayang.

***

Categories: Home, Koleksi | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: